list menu

Sabtu, 12 Januari 2013

Contoh Membuat Essai


Meneladani Louane untuk Mendidik Anak Bangsa
Oleh : Yessi Nadia Giatma
SMAN 1 Cikarang Utara
Jalan Ki Hajar Dewantara 91 Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi

“ Wanita itu,  terlalu jelek untuk 'dimakan'. Aku memberikannya pada anjingku. Tapi... aku akan 'memakanmu'.” Kata Emilio Ramirez, salah seorang murid di kelas khusus dengan nada melecehkan
Itulah contoh sepenggal dialog film yang menceritakan tentang pendidikan, Dangerous Mind. Terlihat dari penggalan dialog diatas bahwa LouAnne dihadapkan dengan murid yang mungkin sulit diatur
Bagaimanakah kelanjutan kisah dari film ini ? Akankah Miss LouAnne berhasil mendidik anak-anak ‘istimewa‘ ini ?
               
Sinopsis film  
Cerita berawal dari detriment LouAnne Johnson sebagai guru di kelas akademik di Parkmont High School. Sebelum mengajar di Parkmount High School, LouAnne berprofesi sebagai pasukan marinir. Awalnya LouAnne tidak menerima tawaran mengajar tersebut, namun ketika dtawari gaji sebesar 24.700 dolar per tahun, LouAnne langsung menerimanya dengan senang hati. LouAnne senang karena langsung diterima di sekolah tersebut, lalu ia bertemu dengan temannya Griffith dan bercerita bahwa ia diterima sebagi guru tetap di Parkmount High School dengan mengajar di kelas akademik atau kelas khusus. Griffith terkejut mendengar berita itu, dan memberitahukan jika kelas yang akan LouAnne ajar adalah kelas yang isinya adalah anak-anak nakal. Namun, LouAnne tidak menghiraukan itu dan tetap pada pendiriannya untuk mengajar kelas akademik.
Hari pertama LouAnne mengajar, LouAnne mendapatkan sambutan yang tidak mengenakkan, ia benar-benar tidak dihiraukan oleh anak-anak didiknya. Ketika LouAnne berusaha meminta perhatian dengan menanyakan guru yang sebelumnya mengajar di kelas itu, LouAnne tetap saja tidak dihiraukan oleh anak didiknya dan bahkan LouAnne dilecehan oleh salah satu anak didiknya yaitu Emilio Ramirez. Emilio ramirez adalah salah satu murid yang paling berpengaruh di kelas tersebut. Setelah mendapat pelecehan dari Emilio, Luoanne langsung meninggalkan kelas dengan muka yang penuh kekecewaan dan LouAnne menemui Griffith untuk memceritakan kekecewaannya akan anak didiknya tersebut dan memutuskan untuk berhenti dari sekolah tersebut. Namun Griffith memberi semangat kepada LouAnne untuk tidak meninggalkan sekolah tersebut, dan menyarankan Luoanne dalam pengajarannya untuk menarik perhatian anak didiknya. 
Setelah mendapat mendapat masukan dari temannya, semangat LouAnne untuk mengajar kembali muncul. Pada malam harinya LouAnne membaca buku-buku miliknya. Pada kesokan harinya LouAnne kembali mengajar anak-anak didiknya di kelas khusus itu. Karena tidak dihiraukan, LouAnne mengmbil sebatang kapur dan menulis tentang dirinya jika LouAnne dulu adalah seorang marinir. Para anak didiknya yang tadinya tidak menghiraukan Luoanne, langsung memperhatikan LouAnne. Namun anak-anak didiknya tidak begitu saja percaya tentang pengakuannya Luoanne. LouAnne menanggapinya dan langsung membuktikan kepada anak-anak didiknya tersebut. LouAnne menunjukkan jika ia mempunyai keterampilan karate. Para anak didiknya masih tidak percaya, kemudian ia menunjuk dua orang muridnya Raul dan Durrel untuk maju ke depan dan mengajari mereka salah satu teknik karatenya dan dengan sedikit proses, mereka pun bisa mempraktekkannya. Setelah mengajari salah satu teknik karatenya kepada dua orang muridnya, LouAnne memberikan nilai A kepada semua anak didiknya, dan harus mempertahankan nilai A tersebut sampai akhir tahun agar bisa lulus dari SMA. [1] 
Keberhasilan Mendidik Anak Murid
Banyak masalah yang dihadapi LouAnne saat mengajar di kelas khusus Parkmount High School. LouAnne. Ketika ia dipanggil kepala sekolah karena mengajarkan karate sebagai ‘alat’ untuk menarik perhatian siswanya dan menggunakan kata-kata kasar yang sesuai dengan lingkungan dan pemahaman anak-anak, yang tidak sesuai dengan kurikulum yang ada di sekolah.
Kemudian ketika Raul dan Gusmaro berkelahi dengan Emilio. Ia berusaha melerai dan memberikan sanksi kepada mereka. Setelah itu, ketika ia mengetahui Callie, murid yang dianggapnya memiliki potensi di kelasnya harus berhenti sekolah karena harus mengambil pendidikan mengurus anak karena hamil.
Kemudian LouAnne menyatakan untuk mengundurkan diri dari sekolah itu, dikarenakan masalah demi masalah yang muncul, seperti keluarnya dua kembar bersaudara dari sekolah dikarenakan LouAnne dianggap telah meracuni mereka dengan pelajarannya dan tewasnya Emilio karena kepala sekolah mengusirnya ketika hendak melaporkan dan meminta perlindungan dari sekolah bahwa ia akan dibunuh oleh siswa lain di Parkmount High School.
Namun anak-anak didiknya tidak setuju jika LouAnne harus meninggalkan mereka. Mereka meyakinkan LouAnne untuk tidak menyerah dalam menghadapi kehidupan seperti makna dari puisi-puisi yang diajarkan LouAnne sebelum-sebelumnya. LouAnne pun terketuk pintu hatinya, kemudian berniat utntuk mengurungkan niatnya untuk berhenti dan kembali melanjutkan pengajarannya di Parkmount High School.

Teladan LouAnne dalam Mendidik
Tugas dan kewajiban seorang guru adalah mengajarkan pelajaran kepada muridnya. Tapi, tidak sampai di situ saja kewajiban seorang guru. Dia bertanggung jawab atas kedisiplinan anak muridnya. Dia juga yang menuntun, membimbing dan mengajari muridnya bagaimana bersikap agar dapat diterima di tengah-tengah masyarakat.
Dari ringkasan cerita film di atas, terlihat bahwa LouAnne tidak hanya mengajarkan pembelajaran Bahasa Inggris, tetapi juga membantu memecahkan masalah anak didik tersebut sebagai wujud cinta dan kasih sayang LouAnne terhadap anak didiknya.
Guru-guru di Indonesia patut meneladani LouAnne dalam mendidik anak bangsa. Memang kenakalan remaja di Indonesia tidak separah yang terdapat dalam film Dangerous Mind. Ketika anak melakukan kesalahan kita memang wajib memberikan sanksi tegas kepada anak didik kita. Tapi tidak hanya itu, kita juga perlu memberikan bimbingan dalam merubah tata perilakunya dengan kasih sayang, sama seperti yang dilakukan LouAnne. Ia mengunjungi rumah setiap anak yang bermasalah karena perkelahian antara Raul, Emilio, dan Gusmaro. Membicarakan apa yang menjadi permasalahan ketiga anak muridnya secara personal dengan orang tuanya tanpa membuat orang tuanya merasa malu dengan kenakalan yang dilakukan oleh anaknya.
Di Indonesia juga perlu menerapkan Teori Humanistik dalam pendidikan. Menurut teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia (Sugihartono, 2007:116). Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik ialah membantu anak didiknya untuk mengembangkan dirinya (Sugihartono, 2007:117). LouAnne Johnson memberikan meaning atau makna atau arti disetiap pelajarannya.[2]Loanne Jonhson dalam hal ini mencoba untuk memaknai arti pendidikan dan kasih sayang yang diberikan kepada anak-anak didiknya melalui pelajarannya. Sebagai contoh, sebagai pendidik LouAnne tidak hanya memberikan pelajaran saja, melainkan melalui pelajarannya itu diberikannya nilai-nilai kehidupan disetiap materi-materinya. Selain itu, LouAnne selalu peduli dengan anak-anak didiknya disaat mereka mendapat masalah, sehingga hasilnya pun berhasil membuat anak-anak didiknya yang tadinya nakal, urakan, dan berandalan menjadi anak-anak yang baik dan saling mengerti satu sama lain.







Mendidik bukan hanya Mengajar
Education is not preparation for life; education is life itself“ -John Dewey-
Penting juga mengetahui tentang Pedagogy dan Andragogy, ini adalah dua model pendekatan pendidikan menurut Paulo Freire. Pedagogy adalah metode pendekatan yang menempatkan objek pendidikannya sebagai ’anak-anak’ meskipun usia bioogisnya sudah termasuk ’dewasa’. Konsekuensinya adalah menempatkan peserta didik sebagai ’murid’ yang pasif, yang sepenuhnya menjadi objek suatu proses belajar, seperti ’guru menggurui, guru mengevaluasi, murid dievaluasi. Sebaliknya Andragogy atau pendidikan ’orang dewasa’ adalah metode pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai orang dewasa, murid sebagai subjek dari sistem pendidikan yang aktif. Fungsi guru adalah sebagai ’fasilitator’ bukan menggurui, dan relasi antara guru-murid bersifat ’multicommunication’ dan seterusnya. [3]
Jadi, guru tidak cukup hanya mengajar, memberikan materi atau transfer ilmu, tetapi juga harus mendidik, memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran anak muridnya agar dapat berguna di masyarakat.
Penutup
LouAnne Johnson merupakan salah satu contoh pendidik yang berhasil mendidik anak muridnya. Keberhasilannya bukanlah sekedar mengajar anak muridnya menjadi pandai, tetapi mengubah karakter anak didiknya yang tadinya urakan menjadi mengerti apa itu etika dan sopan santun di dalam kelas. Tak dapat dibayangkan betapa parah dan banyaknya masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran itu. Yang terpenting, semangat dan pengabdiannya sebagai seorang pendidiklah yang mampu menuaikan buah keberhasilan dalam mendidik anak muridnya. Proses pembelajaran tersebut patut kita tiru dan teladani dalam mendidik anak bangsa. Agar generasi bangsa kita mengalami kemajuan.



Daftar Pustaka
Proses Pembelajaran dalam Film Dangerous Mind, http://azizaccount.blogspot.com/2010/07
Teori Belajar Humanistik,  http://novinasuprobo.wordpress.com/2008/06/15
Perbedaan Mendidik dan Mengajar, http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/28/



[1] Proses Pembelajaran dalam Film Dangerous Mind, http://azizaccount.blogspot.com/2010/07

[2] Teori Belajar Humanistik,  http://novinasuprobo.wordpress.com/2008/06/15

[3] Perbedaan Mendidik dan Mengajar, http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/28/